Saya terlahir dari dua buah hati yang tulus yang berharap pada Tuhan tentang keindahan mengasihi seorang buah hati. Mereka adalah kedua orang tua saya. Cerita terlahir dari sini. Menamakannya dengan Steven Sinaga dengan begitu banyak harapan yang mungkin tak hanya dibayar dengan sekedar air mata.
Tepat sejak saat itu, 6 September 1993 di kota Palu, Sulawesi Tengah, Tuhan mengizinkan saya untuk turut ambil bagian pada mahakarya yang telah Ia lakukan.
Sejauh ini, saya masih menempuh pendidikan yang mungkin juga diimpikan oleh banyak orang pada kursi yang sama, S1 Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara.
Mungkin ada beberapa talenta sederhana yang menjadi anugrah yang seharusnya menjadi bahan ucapan syukur saya untuk-Nya, seperti : saya bisa memainkan beberapa instrumen musik (walaupun masih terkesan amatiran) seperti gitar, piano, keyboard, bass.
Di bidang olahraga juga, saya pernah menjuarai beberapa pertandingan tennis lapangan yang pernah saya ikuti. Dan prestasi terbesar yang pernah saya raih adalah mendapatkan gelar juara 3 pada Medan Open yang saat itu diselenggarakan secara nasional dan nama saya ada di peringkat 5 untuk petenis nasional kelompok umur 12 tahun putra. Saya juga setidaknya bisa bermain futsal walaupun tidak sehebat mereka yang sering tampil dilayar kaca
Selain itu juga, saya bisa dengan mudah berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain dengan tidak mengandalkan kesombongan sebagai tameng di muka saya, mencoba menciptakan suasana sebaik mungkin untuk mendapatkan sedikitnya sukacita bersama dengan orang lain.
Hal lain yang saat ini menjadi kebanggaan orang tua saya adalah, sampai saat ini (semester 5) saya selalu mendapatkan IP yang terbilang baik bahkan dengan IPK sementara 'cumlaude' (kata mereka-mereka yang memperhatikannya). Namun, sebisa mungkin hal itu bukan menjadi hal yang harus disombongkan didepan orang lain yang pada akhirnya bisa menjadi batu sandungan untuk semuanya.
Mungkin semua anak yang masih waras juga akan sependapat jika keinginan terbesar di hidup adalah ingin menyenangkan kedua hati yang selalu peduli, 2 pasang mata yang selalu mengawasi dengan penuh kekuatiran, ya mereka adalah orang tua. termasuk saya. Begitu besar keinginan itu, sehingga saya selalu berdoa untuk itu, dan dengan keyakinan suatu saat nanti, dimana langkah saya akan membentuk senyum bagi mereka yang juga selalu mengucapkan nama saya dalam doa mereka.
"MUNGKIN BAGI DUNIA KAMU HANYALAH SESEORANG, TAPI MUNGKIN BAGI MEREKA, KAMU ADALAH DUNIANYA ..."
with love -steven-



